Menghadapi Dilema Tanpa Dilema

 

    Pendidikan yang kita kenal selama ini banyak menghendaki suatu situasi keteraturan, kepatuhan, dan bahkan keseragaman. Anak didik akan dikatakan baik jika dia diam di kelas, tidak banyak membantah, dan mengikuti apapun yang diperintahkan oleh guru. Perbedaan pendapat seolah menjadi hal yang tabu untuk diungkapkan dalam forum diskusi jika itu merupakan sesuatu yang disabdakan guru. Celakanya, banyak siswa yang terpaksa mengikuti apapun perkataan guru agar dapat dikategorikan sebagai anak yang baik. Apakah demikian sebenarnya tujuan dari pendidikan yang diharapkan oleh negara kita?
    Ki Hajar Dewantara dengan sistem among memposisikan guru seperti layaknya pamomong yang menjaga dan membimbing sang anak agar selamat. Melalui sistem among, guru memberikan pembelajaran dan pendampingan terhadap anak didik secara merdeka lahir batinnya, merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya sesuai dengan kodrat anak didik dan mengikuti perkembangan zamannya. Guru berperan menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik untuk kemudian menjadikannya sebagai kekuatan dan bekal mereka di kemudian hari. Dengan metode among ini anak didik mendapatkan kemerdekaan untuk mengembangkan dirinya.
    Dalam penerapannya, sistim among juga didukung oleh prapta triloka yang sudah tidak asing di telinga kita. Sebagai seorang pendidik, guru harus mampu mengamalkan tiga hal yaitu: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Falsafah ini menjelaskan bahwa guru bukan hanya sebagai penceramah yang menyampaikan nilai-nilai teoretis belaka namun lebih dari itu ia juga harus mampu memberikan teladan kepada anak didiknya, memberikan mereka motivasi dan dukungan serta dorongan untuk terus berkembang dalam segala hal yang bersifat positif. Guru bukan lagi sebagai pusat pembelajaran atau satu-satunya sumber belajar bagi anak didik, namun guru berperan sebagai manajer atau pemimpin yang mengarahkan dan membimbing mereka menuju pada kemerdekaan belajar.
    Terlepas dari semua peran penting yang guru miliki, guru bukanlah sosok paripurna yang sempurna dan jauh dari kekurangan. Ia juga seorang individu yang memiliki keterbatasan dalam hal-hal tertentu. Maka tidak dipungkiri jika guru sangat mungkin dihadapkan pada permasalahan yang menimbulkan dilema bagi dirinya. Dilema ini bisa berkaitan dengan permasalahan pribadi maupun berkaitan dengan profesi. Dilema muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai atau prinsip diri dengan realitas kondisi yang membutuhkan pengertian atau pemakluman. Hal ini seringkali terjadi karena nilai kebenaran universal tidak dapat secara otomatis diterapkan pada situasi permasalahan tertentu. Untuk itu guru membutuhkan integrasi beberapa keterampilan yang meliputi keterampilan sosial emosional, keterampilan coaching, keterampilan dalam memutuskan suatu permasalahan dan kemampuan berkomunikasi yang baik.
    Ketika dihadapkan pada satu dilema, kita akan secara spontan memberikan respon entah itu berupa ekspresi wajah, berupa kata-kata, ataupun tindakan. Adanya dilema ini sangat mungkin memberikan rasa terkejut, rasa tidak percaya atau bahkan kekecewaan. Penguasaan terhadap emosi akan sangat berdampak pada respon spontan yang muncul. Guru yang mampu mengenali dirinya dan memahami emosinya akan mampu bersikap tenang dan mencoba menetralisir keadaan. Ia tidak tergesa-gesa memutuskan secara sepihak hanya berdasarkan perasaan atau egonya namun secara sistematis akan menempuh suatu langkah penyelesaian dengan kepala dingin, dimulai dengan melakukan analisis masalah, merangkul pihak-pihak yang berkompeten dan melakukan pertimbangan dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian diharapkan kita akan memperoleh suatu keputusan yang paling sesuai dengan kondisi saat itu dan dapat mempertanggungjawabkannya secara sadar.
Ada beberapa tantangan yang seringkali muncul dalam setiap kondisi pengambilan keputusan yaitu:
  1. Problem paradigma. Perbedaan cara pandang akan membuat suatu pengambilan keputusan menimbulkan pro dan kontra. Meski hal ini wajar terjadi, namun akan lebih baik jika sejak awal antar warga sekolah menyepakati bersama visi dan misi yang berlaku di sekolah tersebut. Jika dikemudian hari muncul suatu permasalahan, semua kembali pada kesepakatan awal yang telah disepakati bersama.
  2. Problem cara pelaksanaan. Hal ini berkaitan dengan teknis pengambilan keputusan. Perbedaan pemahaman, latar belakang seseorang, dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang akan sangat berpengaruh terhadap prinsip yang diambil saat mengambil keputusan. Perlu diperhatikan juga pihak-pihak yang terkait dengan dilema, apakah yang kita hadapi adalah siswa, orangtua, rekan guru, pimpinan ataukah lingkungan.
  3. Problem komitmen. Masalah komitmen merupakan sesuatu yang sangat penting. Komitmen dapat dianggap sebagai daya untuk mempertahankan paradigma dan cara pelaksanaan. Komitmen akan berpengaruh terhadap kesabaran, kreativitas, dan daya tahan seseorang terhadap langkah yang diambilnya. Seseorang yang memiliki komitmen lemah akan mudah terbawa suasana yang membuatnya berada di zona nyaman dan mengabaikan nilai-nilai ideal yang seharusnya ia pertahankan.
Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
  1. Kenali posisi. Siapapun kita, kenali posisi di mana kita berada. Dengan demikian kita bisa menimbang sejauh mana kekuatan yang kita miliki dan dampak apa yang mungkin timbul yang disebabkan oleh keputusan yang kita buat. Ingat bahwa kita bukan berdiri sebagai seorang individu saja, namun kita membawa bendera institusi maupun profesi yang harus selalu kita jaga dengan baik.
  2. Bangun kolaborasi. Hal ini penting untuk menumbuhkan kekuatan dan dukungan yang positif. Adanya tim kolaborasi sangat memungkinkan kita untuk dapat saling menjaga dan memperkuat komitmen yang sudah kita sepakati bersama.
  3. Seni berkomunikasi. Segala ide dan maksud tujuan akan bisa tersampaikan melalui komunikasi. Keterampilan berkomunikasi yang baik akan menjadi jembatan untuk mengantarkan kita pada solusi kesepakatan terbaik.
  4. Terus berlatih dan memperbaiki kualitas diri agar semakin terampil dalam mengelola dilema yang terjadi. Terkait apapun itu, pengalaman dan latihan akan sangat bermanfaat terhadap efektifitas dan daya tahan dalam menentukan solusi penyelesaian.
Keputusan yang kita buat mungkin tidak bisa memuaskan semua pihak, namun dengan berbagai pertimbangan dan langkah pengujian secara hati-hati kita akan bisa meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul. Kalaupun keputusan yang kita buat menimbulkan efek lain, maka itu harus kita hadapi dengan penuh tanggungjawab dan kesabaran karena masalah dalam hidup adalah sebuah keniscayaan.

LihatTutupKomentar